Sejarah Memanah dan Perkembangannya Sampai Saat Ini

In Uncategorized by Vee0 Comments

Seni memanah memang pada awalnya hanya sebuah cara yang digunakan untuk bertahan hidup.

Memanah itu sendiri, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, yang mana senjata dari seni yang satu ini hanya terdiri 2 bagian, yakni busur, dan anak panahnya.

Sehingga, pengertian olahraga panahan tersebut masih memiliki makna yang berbeda-beda, tapi pada dasarnya sama.

Orang-orang zaman dahulu, sudah menggunakan senjata yang satu ini untuk berbagai kepentingan, misalnya untuk berburu, berperang, ataupun hanya sekedar membangun tempat berteduh.

Sampai saat ini, sebanarnya masih cukup banyak orang dari berbagai belahan dunia yang menggunakan senjata tersebut.

Tetapi tidak secara keseluruhan, lebih tepatnya hanya beberapa kalangan suku saja yang masih menggunakannya hingga saat ini, contohnya seperti suku-suku di daerah pedalaman sungai Amazon, suku Dayak di Kalimantan Tengah, suku Irian di Irian Jaya, suku Negro di Afrika, suku Veda di pedalaman Srilangka,  dan suku Kubu di Sumatera.

Hingga kinipun masih ada suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan panah dalam penghidupan sehari-hari mereka, seperti : suku-suku bangsa di hutan-hutan daerah hulu sungai Amazone, suku-suku Veda, suku-suku Negro, suku-suku Irian, suku Dayak dan suku Kubu

Kalau di kilas balik sejarah tentang panah dan berbagai jenisnya, seni yang satu ini memang belum jelas bagaimana sejarah yang lebih tepat.

Namun, dari beberapa versi cerita sejarah panahan yang ada, diantaranya terdapat 2 kelompok ahli yang mengemukakan cerita yang berbeda.

Kelompok pertama menyebutkan, senjata panah dan penggunaannya, sudah ada sejak era Mesolitik, tepatnya sekitar 5000-7000 tahun yang lalu.

Sedangkan versi yang lain, senjata panah itu sendiri sudah lebih dahulu lagi digunakan dalam kehidupan manusia, lebih tepatnya sejak era Paleolitik, yang mana zaman tersebut ada sekitar 10.000-15.000 tahun yang lalu.

Selain itu, seperti kesimpulan yang diambil berdasarkan salah satu bukti yang ada saat ini.

Yang mana suatu hari ketika para ahli geografi dan purbakala sedang melakukan penggalian di Mesir, mereka telah menemukan sebuah tubuh prajurit yang usianya sudah ada sejak masa era Mesir Kuno.

Berdasarkan hasil penemuan tersebut, tubuh prajurit itu mati karena terkena anak panah.

Nah, hal inilah yang dijadikan sebagai salah satu bukti kalau panah dan semua penggunaannya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Tapi seiring dengan perkembangan zaman, aktifitas memanah itu sendiri sudah jarang digunakan untuk berburu ataupun berperang.

Saat ini, aktifitas memanah itu sendiri sudah terdaftar sebagai salah satu cabang olahraga yang di kompetisikan pada Olimpiade, baik itu Nasional, maupun Internsaional.

Cabang olahraga yang satu ini tak hanya mengandalkan peralatan yang bagus saja, tetapi juga membutuhkan reflek dan sense ketepatan yang sempurna.

Misalnya seperti, mengukur arah mata angin dan kecepatannya, berapa derajat tingkat jarak antara subjek dan target, ataupun seberapa kuat drawing (tingkatan menarik tali dalam memanah) yang dibutuhkan supaya anak panah bisa tepat pada sasaran.

Nah, semua itu hanya bisa didapatkan kalau Anda sudah memiliki pengalaman, dan  jam terbang yang cukup.

 

Sejarah Awal berdirinya Olahraga Memanah

pengertian olahraga panahan

Nah, bukti lainnya kalau seni memanah itu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu adalah, lukisan- lukisan yang menggambarkan orang zaman dahulu untuk bertahan hidup, baik itu untuk keperluan berburu maupun hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan aktifitas harian.

Bahkan, beberapa buku- buku ataupun prasasti yang ditemukan melukiskan bahwa, senjata panah itu sendiri sudah lebih dari 100.000 tahun yang lalu digunakan oleh suku Neanderathal.

Nah, berdasarkan data yang ditemukan, hasilnya menunjukkan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar 2100 tahun sebelum masehi.

Selain itu, dari beberapa buku lainnya, dijelaskan juga bahwa, sekitar tahun 1600 setelah Masehi, busur dan anak panah merupakan senjata utama yang digunakan setiap negara dan bangsa- bangsa untuk berperang.

Terlepas dari mana yang benar dan mana yang salah, berdasarkan seluruh catatan yang ada.

Sebelum aktifitas memanah termasuk menjadi salah satu cabang olahraga seperti yang sudah kita kenal saat ini, ternyata seni memanah itu sendiri sudah melalui berbagai masa pertumbuhan yang cukup lama.

Yang mana melalui peranan yang berbeda-beda.

Mulanya panahan hanya digunakan masyarakat sebagai alat untuk mempertahankan diri, kemudian terus berkembang sampai bisa berperan sebagai olahraga yang menagndalkan refleksi, ataupun menjadi sebuah seni yang dasarnya kembali kepada subjektif-nya itu sendiri.

Disamping itu, dari catatan sejarah yang di dapatkan, dari skrip tersebut menyebutkan bahwa, panahan baru mulai dipandang sebagai salah satu cabang olahraga pada tahun 1676, atas inisiatif Raja Charles II dari Inggris.

Kemudian, setelah inisiatif itulah baru banyak negara-negara lain yang juga menganggap panahan sebagai salah satu cabang olahraga, dan bukan lagi sebagai sebuah senjata yang digunakan untuk berperang.

Di Inggris pada tahun 1844, diselenggarakanlah sebuah perlombaan memanah kelas nasional yang pertama, dibawah nama sebuah kelompok perkumpulan orang yang gemar memanah, atau bisa disebut juga dengan Grand National Archery Society (GNAS).

Sedangkan untuk di negara Paman Sam, negara tersebut menyelenggarakan kejuaraan memanah nasionalnya yang pertama pada tahun 1879, yang berlokasi di kota Chicago, Amerika Serikat.

 

Perkembangan Seni Memanah di Nusantara

pengertian memanah

Sama halnya dengan sejarah memanah yang ada di dunia.

Tidak seorangpun yang bisa memastikan secara pasti, kapan masyarakat di Indonesia mulai menggunakan panah dan alat-alatnya dalam aktifitas kehidupan sehari-harinya.

Tetapi apabila kita mau memperhatikan sejenak cerita-cerita zaman dahulu, seperti wayang purwa misalnya, jelas sekali bisa disimpulkan bahwa, sejarah dari senjata busur dan panah yang ada di Nusantara pun sudah cukup lama.

Kalau Pekan Olahraga Nasional 1 (PON) kita gunakan sebagai sebuah batas waktu pada era bangkitnya olahraga Nasional, maka panahan juga telah ikut ambil bagian pada masa bangkitnya Olahraga Nasional teresebut.

Dalam sejarah PON di Nusantara, memanah memang merupakan salah satu cabang olahraga yang selalu diikutsertakan dalam perlombaan.

Yaa walaupun secara resminya, kelompok Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) baru dibentuk oleh Sri Paku Alam VIII pada tanggal 12 Juli tahun 1953, yang lokasinya berada di Yogyakarta.

Baru kemudian pada tahun 1959 di Surabaya, sebuah kejuaraan pertama dengan tingkat Nasional didadakan, sebagai sebuah perlombaan yang sudah terorganisir.

Sang pendiri Perpani, Sri Paku Alam VIII mulai menjabat sebagai Ketua Umum organisasi tersebut mulai dari tahun 1953–1977, lebih tepatnya hampir 24 tahun ia menjabat.

Dengan terbentuknya organisasi Perpani, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah menjadi salah satu anggota dari World Archery Federation (WAF).

Federasi Memanah Internasional tersebut sudah berdiri sejak tahun 1931, dan  Indonesia diterima menjadi salah satu anggotanya pada tahun 1959, di Oslo – Norwegia.

Sejak saat itulah seni memanah di Indonesia mulai berkembang dan maju dengan pesat.

Ya walaupun pada beberapa tahun pertama kegiatannya, cabang olahraga yang satu ini hanya terdapat di beberapa kota pulau Jawa saja.

Tetapi untuk saat ini, bisa dikatakan hampir di setiap penjuru tanah air, seni memanah sudah mulai dikenal, dan langsung diminati oleh banyak kalangan.

 

Perjuangan Nusantara Untuk Bersaing Dengan Dunia Dalam Kompetisi Cabang Olahraga Memanah

sejarah panahan di indonesia

Setelah Indonesia diterima sebagai salah satu anggota FITA pada tahun 1959, sejak saat itu pula Indonesia mulai dikenal dengan gaya memanah tradisional-nya, dengan ciri-ciri menembak menggunakan posisi duduk, ataupun dengan gaya naluriah-nya.

Sejak saat itu pula, para atlet pemanah Indonesia mulai mengambil bagian dalam ajang pertandingan kelas Internasional.

Namun bersamaan dengan hal itu, ada juga suatu masalah yang menghalagi para atlet Nusantara untuk ikut berkompetisi pada ajang kelas dunia.

Masalahnya adalah karena peralatan yang diperlukan, masih kurang memadai untuk mengikuti kejuaraan dunia tersbeut, tujuannya tidak lain supaya Indonesia dapat berkompetisi dengan lawan-lawannya seimbang.

Karena sulit di dapat dan biaya yang diperlukan sangat mahal. Akhirnya hanya beberapa atlet pemanah saja yang bisa membayar harga alat-alat tersebut.

Hal inilah yang menjadi salah satu penghambat perkembangan cabang olahraga memanah di Nusantara.

Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 1963 Perpani menciptakan sebuah ronde baru dengan nama Ronde Perpani.

Yang mana dasar-dasar ketentuannya sama dengan ronde yang ada pada kompetisi kelas dunia.

Hanya saja, untuk peralatan yang digunakan untuk jarak tembak memanah, dapat disesuaikan dengan kemampuan peralatan- peralatan yang tersedia di dalam negeri.

Mengenai detail peraturannya, Ronde Perpani menetapkan bahwa, hanya busur dan panah yang dibuat menggunakan bahan dalam negeri saja yang boleh digunakan untuk ikut berkompetisi.

Tujuan dari peraturan tersebut dibuat tidak lain karena, untuk menyelesaikan permasalahan peralatan mahal yang dibutuhkan, yang mana peralatan tersebut harus melalui import terlebih dahulu untuk mendapatkannya.

Supaya lebih mudah, Perpani menetapkan hanya boleh menggunakan alat-alat yang bisa dibuat di Indonesia.

Alasan lainnya adalah, Perpani mempunyai suatu tujuan khusus, yakni mempersiapkan para pemanah-pemanah kita, untuk bisa ikut ambil bagian dalam pertandingan berkelas Internasional, tanpa harus menunggu ketersediaannya peralatan-peralatan yang mahal.

Untuk para peserta yang terbukti berhasil menunjukan kemampuannya melalui ronde Perpani, mereka diberi kesempatan untuk menggunakan peralatan Internasional supaya bisa beradaptasi untuk kompetisi yang lebih besar.

Sedangkan untuk ronde yang tradisional, dengan ciri-ciri gaya duduk dan instinctive-nya, Perpani sendiri sulit untuk memilih atlet pemanahnya langsung, karena sebab perbeda-bedaan sifat prinsipilnya tadi.

Selanjutnya, karena sudah adanya ke-3 ronde kompetisi memanah tersebut, Perpani mengatur setiap rondenya supaya bisa serasi dengan kejuaraan nasional yang diadakan, diantaranya sebagai berikut:

  • Setiap tahun genap, akan diselenggarakan sebuah kejuaraan tingkat Nasional untuk Ronde Perpani, maupun Ronde Tradisional
  • Sedangkan untuk tahun ganjil, kompetisi yang diselenggarakan ialah berupa kejuaraan Nasional yang dipersiapkan untuk Ronde FITA

Berhubungan dengan kebijaksanaan ini, tujuannya adalah supaya bisa menyelaraskan ketentuan dari FITA itu sendiri, yang mana organisasi tersebut menyelenggarakan kejuaraan dunia pada setiap tahun ganjil.

Sehingga, tujuan dari kejuaraan Nasional pada Ronde FITA tersebut, tidak lain dimaksudkan untuk persiapkan memilih para atlet pemanah Indonesia yang akan terjun langsung pada ajang kejuaraan Dunia.

Sedangkan pada pekan olahraga Nasional-nya, perlombaannya diselenggarakan secara langsung, yakni keseluruhan Ronde-nya sekaligus.

Sejak Konggres Perpani pada tahun 1981, bersamaan dengan PON X.

Pola dari kebijaksanaan Perpani dirubah, yakni Kejuaraan Nasional yang diselenggarakan pada setiap tahunnya, akan diselenggarakan, kecuali tahun tersebut sudah diselenggarakan PON, maka tidak ada lagi Kejuaraan Nasional.

Jadi kompetisinya, semua Ronde akan diperlombakan sekaligus, yaitu Ronde Perpani, Ronde Tradisional, dan Ronde FITA.

 

Event Penting Tentang Dunia Panahan Indonesia di Rancah Nasional dan Internasional

olahraga memanah

Perlu dikemukakan juga disini, bahwa sebelum tahun 1959, panahan hanya diperlombakan dengan Ronde Panahan Tradisional, yakni ronde duduk dengan jarak 30 meter.

Selanjutnya beberapa event penting yang harus Anda ketahui tentang dunia Panahan Indonesia, antara lain adalah:

  •  Kejuaraan Nasional I di Surabaya pada Tahun 1959
  •  Kejuaraan Nasional II di Yogyakarta pada Tahun 1961
  •  Kejuaraan Nasional III di Jakarta pada Tahun 1962
  •  Asian Games ke-IV di Jakarta, yang mana atlet Panahan Indonesia menempati posisi ke-2 di bawah negara Jepang.
  •  Kejuaraan Nasional ke-IV di Jakarta pada Tahun 1963.
  •  Genefo I di Jakarta, yang mana ketika itu regu Indonesia (Putera) menempati posisi ke-4, dan regu puterinya pada posisi ke-2.
  •  Perlawatan regu Nasional ke RRC dan Phlipina pada Tahun 1964.

Selama di RRC, para atlet pemanah-pemanah pria kita berada dalam tiga pertandingan, yang menduduki posisi teratas dalam kompetisi.

Sedangkan untuk puterinya, para anak bangsa masih harus mengakui keunggulan para altet pemanah puteri RRC.

Sebaliknya ketika di Philipiina, para atlet pria harus menerima keunggulan para pemanah-pemanah tuan rumah.

Sedangkan untuk pemanah puteri Nusantara, para atlet kita lebih unggul daripada atlet-atlet pemanah Philipina.

  •  Kejuaraan Dunia di Vesteras – Swedia pada Tahun 1965, dimana regu puteri dari Indonesia meraih posisi ke-13, dan untuk posisis terbaik dunia, mereka memperoleh posisi ke-9. *Not bad at all right? 😀
  •  Ganefo Asia I di Phnom Penh, Kamboja pada Tahun 1966.

Regu putera menempati urutan teratas dalam kompetisi, dan 2 orang atlet unggulan kita, berhasil membawa pulang medali emas dan perak untuk kejuaraan perorangan.

Sedangkan untuk regu puterinya, Indonesia menempati posisi ke-2 di bawah RRC.

Nah untuk selanjutnya, perkembangan akan prestasi para atlet panahan di Indonesia tidak pernah mengecewakan.

Dengan demikian pula, organisasi Perpani selalu berusaha semaksimal mungkin dan berhasil mengikuti berbagai kejuaraan Dunia, yaa walaupun hasilnya masih berada di bawah para atlet pemanah Asia lainnya yang masih menempati posisi teratas kompetisi.

Tidak hanya itu saja, Nusantara juga selalu ikut andil dalam pertandingan-pertandingan Internasional lainnya, misalnya seperti SEA Games, Asian Games, Asian Meeting Championships, dan Asia Oceania Target Archery Championships, Perpani selalu ikut mengambil bagian untuk membawa pulang medali-medali kebanggaan.

Kira-kira seperti itu perkembangan seni memanah di Indonesia sampai saat ini, yang mana cabang olahraga Panahan selalu termasuk ke dalam cabang olahraga yang diprioritaskan.

Bahkan, mereka juga memasukan ke dalam cabang super-prioritas dalam hal ini, untuk mempersiapkan para atletnya untuk menghadapi Asian Games selanjutnya.

Hal ini tidak lain tentunya karena prestasi Indonesia dalam olahraga Panahan yang sudah dicapai selama ini.

Sedikit catatan pula, federasi forum Olympic Games Panahan pun sudah  ikut berbicara untuk memberikan kontribusi yanglebih ke dalam bidang olagraga memanah.

Yaa walaupun pihak Pemerintah selalu mengirimkan atlet pemanah kita hanya dalam jumlah yang minim, yakni 1putera dan 1puteri.

Tetapi pada sejarahnya, Indoensia telah membuktikan bahwa, pada kompetisi Olympic Games tahun 1976 di Montreal – Kanada, para atlet pemanah puteri kita, yaitu Leane Suniar berhasil menggeser para pesaingnya, dan menempati urutan ke-9 dalam klasemen.

Dan  pada Olympic Games Tahun 1988 di Seoul – Korea Selatan, atlet pemanah dari team puteri kita juga berhasil menempati posisi ke-2, dan untuk pertama kalinya Indonesia mendapatkan medali perak di arena yang setara Internasional.

Sebuah prestasi yang sangat membanggakan bukan? 😀

Leave a Comment